SELAMAT DATANG DI BLOG IRWANDHIE ASH-SHIDDQUE

Minggu, 23 September 2012

MENYALAKAN ‘LILIN’ DALAM DIRI ‘PENDIDIKAN’


Oleh : Irwandi )**



Pemerintah dan masyarakat sangat berharap ‘pendidikan’ (baca:guru) itu bersamudrakan ilmu pengetahuan. Bisa menjadi pusat cahaya yang menerangi kehidupan manusia, mengikis kebodohan di sekitar kehidupannya. Berperan aktif sebagai penghapus kejahiliyaan, itu menjadi misi sejak manusia dikukuhkan sebagai khalifah di dunia fana ini.



Ia (guru) juga yang mencerdaskan akal/afektif, kegesitan fisik/motorik, dan karakter/akhlak generasi demi generasi. Dan yang tak kalah penting adalah pembawa risalah ilmu pengetahuan selain dari para alim-ulama, pewaris nabi yaitu mewarisi teladan yang dibawa atau dicontohkan oleh nabi sebagai utusan Allah yang terakhir, Muhammad SAW.



Kita semua setuju bahwa kesungguhan dan keihklasan ‘pendidikan’ dalam mendidik selama ini telah menempatkan dunia pada posisi kemajuan yang kita rasakan saat ini. Dalam aroma globalisasi ditopang perkembangan IT yang terus menempatkan dunia pada peradaban yang sangat maju (modren.) Semua itu tidak terlepas dari campur tangan atau peranan-mara guru yang dominan di dunia pendidikan.



Secara spesifik, peranan esensi ‘pendidikan’ adalah roh dalam proses pendidikan, baik itu pendidikan oleh keluarga, oleh masyarakat, formal maupun nonformal. Dimulai dari orang tua sebagai guru, guru di sekolah, guru mengaji, guru silat atau sosok pengabdian lain yang membuat kita bisa dan memperoleh pengetahuan dari mereka, wajib kita sebut guru kita. Walau mereka hanya sempat memberikan sepotong ayat atau secuil ilmu, nasehat-nasehat yang baik, sepantasnya mereka kita sebut guru dan kita muliakan atensi mereka.



Jepang adalah salah satu negara yang paling menghormati guru. Di kala bom atom meluluhlantakan dua kota besar di Jepang. Kaisar Jepang pertama kali menanyakan kondisi guru, apakah masih ada atau banyak yang masih hidup?



Begitu juga di negara kita. Daerah-daerah yang bisa menghormati dan memuliakan eksitensi keguruan, maka daerah itu akan kelihatan maju dari daerah lain. Sumatra Barat dapat kita jadikan contoh. Warga masyarakat disini sangat menghargai guru. Maka tidak heran, bila bertegur sapa di mana saja masyarakat selalu menyapa ‘pendidikan’ dengan ‘guru’ walaupun yang menyapa itu lebih tua dari sang ‘pendidikan.’



Kalau kita di daerah melayu ini pun juga terbiasa dari dahulu memuliakan ‘pendidikan.’ Tidak asing lagi ditelinga kita mendengar istilah ‘cekgu’. Orang yang dianggap berpendidikan, serba tahu, dan biasanya dalam pengetahuan agamanya. Namun, saat ini panggilan itu seperti hilang timbul dan hanya menjadi sebutan di atas kertas, tapi di lapangan jarang masyarakat apalagi di Kota Batam yang masyarakatnya makin heterogen menyebut atau menyapa guru dengan sebutan 'cekgu.'



Seyogyanya, karena penghargaan dan harapan besar masyarakat terhadap peranan ‘pendidikan’ kita pun dituntut mereka menjadi Profesional. Bisa membawa diri, berlaku wibawa sebagai pemegang dan penerus risalah serta harus menyadari akan kemuliaan posisi strategisnya sebagai pembangun bangsa.



Lebih dari itu, mampu bergaul baik dengan masyarakat, terus menunjukan semangat belajar, meng-up grade dirinya, bersifat kekinian dan terbarukan. Apalagi kalau mencintai dunia tulis- menulis, mencurahkan ilmu dan pengalamannya. Sehingga bisa menjadi figure tiga dimensi yakni mendidik siswa yang berkarakter tinggi, mendidik masyarakat dengan panutan dan teladan, dan menjadi lokomotif kemajuan bangsa dengan pengetahuan yang dimilikinya.



Karena itu, saya merasa bangga menjadi bagian dari salah seorang yang disebut guru. Menjadi sosok guru di depan kelas merupakan suatu kebanggaan dan panggilan jiwa yang sangat menantang. Selalu memberi inspirasi tiada henti. Menjadikan tantangan karena berhadapan secara live dengan berbagai macam karakter manusia, sifat/fiil/watak, dan tingkah laku/habit siswa.



Dalam satu hari, saya misalnya, mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 15.00 WIB telah berinteraksi dengan siswa memberikan materi dalam 3 kelas yang berbeda , masing-masing kelas terdiri dari 40 siswa maka ada 120 mimik wajah/watak dengan ratusan karakter yang mereka memiliki. Guru berperanan penting menjuruskan, meluruskan setiap habit mereka agar tumbuh ‘mengakar’ karakter indah buat masa depan mereka. Sebutlah karakter itu berupa; Kejujuran, percaya diri, suka menolong, empati, bekerja keras, tidak mendominasi teman, dan karakter lainnya.



Kalau dalam kehidupan beragama, karakter itulah yang disebut akhlak. Menanamkan akhlak mulia ini yang lebih sulit daripada hanya sekedar mengajar atau menstransfer ilmu.



Selanjutnya dalam paparan hubungan antar manusia secara horizontal, ‘pendidikan’ merupakan cermin atau ‘lilin’ penerang banyak orang. Kalau siswa dikatakan berlaku salah, kadang oleh masyarakat disindirkan; ’Siapa gurunya?’ Tapi kalau ‘pendidikan’ yang berbuat salah, pasti pribadi ‘pendidikan’ itu yang dihujat seutuhnya.



Begitulah masyarakat memandang sosok ‘pendidikan.’ Kita dituntut serba sempurna, bila perlu menjadi manusia super, mungkinkah itu? Tentu saja kita tidak bisa seperti superman.



Namun, kita hanya bisa menekankan dan menegaskan bahwa pendidikan itu sepanjang hayat. Itulah yang bisa kita contohkan. Kita mengajar tapi juga harus terus belajar, dan sekarang oleh grup PPKB di FB mesti suka menulis pula.



'Pendidikan' dan kepemimpinan



Bila kita melihat muka berjerawat di cermin, tentu saja yang diobati muka kita, bukan cerminnya. Hal yang sama juga berlaku bagi setiap gangguan dalam hubungan ‘pendidikan’ dan kepemimpinan.



Bila pemimpin-pemimpin kita berbuat salah saat ini, yang disalahkan ‘pendidikan’nya terdahulu. ‘Pendidikan’ dahulu disalahkan menghasilkan pemimpin yang berkarakter korup, pemimpin yang kurang empati dan tidak memihak pada rakyat kecil.



Kita hanya bisa pasrah, karena yang disorot biasanya oleh media selalu saja yang menarik untuk dikupas hasil dari ‘pendidikan.’ Selalu saja kesalahan orang lain lebih di dominankan kendati kadang berhasil membuahkan perubahan yang luar biasa, tapi kadang lepas dari sebutan.



Maka, sekarang timbul perdebatan hubungan kualitas kepemimpinan dengan pendidikan yang pernah dilaluinya. Sebagian menganggap pemimpin yang berkarakter sangat diwarnai oleh seberapa terang cahaya yang ada di dalam diri sang pemimpin yang telah dihidupkan oleh hasil bakar ‘lilin’ pendidikan.



Lihatlah pemimpin dunia yang berkarakter; Soekarno, Mahatma Gandi, Abraham Lincon adalah sederetan pemimpin yang ‘lilin’nya menyala secara terang benderang. Pada akhirnya mereka menerangi umat melalui tabungan perbuatan baiknya sudah menggunung. Mereka pun mendapat penghormatan sebagai pemimpin sekaligus guru bangsa, walau mereka telah tiada.



Secara pribadi, saya memang masih jauh dari kualitas yang dimiliki tiga pemimpin diatas, bahkan masih menyimpan banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Namun perjalanan saya sebagai Guru KKPI ( Keterampilan Komputer & Pengelolaan Informasi ) bertutur bahwa; ada sejumlah langkah yang layak untuk dicermati bagi saya pribadi dan kita semua sebagai ‘pendidikan.’



Pertama; Saya tidak anti ego, bahkan saya berupaya menjadikan ego sebagai pendorong atau katalis kemajuan diri saya sebagai ‘pendidikan’ yang makin berkualitas. Terus dewasa dan tumbuh. Tulisan inipun ada karena sebagian didorong oleh rasa ego saya agar terus tumbuh. Agar saya bisa berbuat lebih daripada hanya sekedar bercuap-cuap, hilang lepas di makan angin, alangkah baiknya ilmu dan pengalaman ini saya tuliskan.



Saya juga banyak belajar dari melawan ego terhadap orang saya anggap statusnya di bawah saya. Orang yang biasanya tidak kita anggap penting, padahal mempunyai kesabaran dan hati yang luar biasa. Sebutlah; satpam sekolah, dan tukang kebun sekolah. Saya dekati mereka, saya sapa, selalu berkata manis dan mengangap mereka orang penting dalam kehidupan saya.



Bagaimana saya harus meremehkan? kadang mereka memberi saya kearifan. Sebagai ilustrasi, dengan gaji kecil mereka masih bisa bersyukur kepada Tuhan. Dengan penampilan yang sederhana, masih memiliki percaya diri berkomunikasi dengan orang lain. Dengan kerut muka hitam dan kotor masih bisa tersenyum kepada orang lain. Di sisi lain, karena kehidupan kerap bergerak naik turun seperti roda pedati, saya sering diingatkan secara tidak langsung oleh mereka bahwa ego bisa dibawa positif atau kita bawa ke arah negatif, seperti sombong, cuek, remeh dan sebagainya.



Kedua; Saya menyadari arti penting cara berkomunikasi yang baik. Sering dikemukakan oleh para ahli bahwa seseorang disebut berhasil bila sampai pada tataran ‘communication with heart’



Terus terang, ada banyak sekali yang bisa diperoleh dengan menguasai seni mendengar dan berbicara yang baik. Coba bayangkan!... jikalau kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan siswa kita. Pasti akan ada dua kemungkinan; kalau tidak kita yang membenci atau mengatakan siswa bodoh atau sebaliknya siswa yang mengatakan kita demikian, tidak bisa membuat mereka mengerti dari apa yang kita sampaikan. Apa yang kita sampaikan menjadi tidak bisa dicerna siswa kita dengan baik. Akhirnya, pembelajaran menjadi terganggu dan tidak bermakna.



Yang tak kalah penting dalam berkomunikasi yang baik adalah mengadopsi konsep ‘out total body language.’ Maksudnya, bila berbicara dengan orang lain dalam posisi saling menghargai dan berterima. Dimana ada saat menjadi pendengar yang baik, tidak menyela orang yang berbicara, atau pandai menempatkan raut muka yang manis dan antusias. Tunjukkan empati dan simpati kita, siapapun ia, walaupun itu siswa atau bawahan kita. Ajukan pertanyaan yang bisa membuat orang semakin bangga akan dirinya dan merasa dihargai.



Ketiga; Kita sebagai pendidik harus mempunyai ‘pegangan’ atau alat. Pegangan itu berupa pengetahuan yang luas. Sedangkan alat itu terus kita miliki untuk mendukung pekerjaan kita sebagai pendidik. Sebutlah; gadget canggih atau smartphone untuk internet, untuk membuat catatan, atau kita gunakan sebagai koran digital yang mobile. Sehingga kita bisa membaca dimana dan kapan saja cukup dari alat itu. Atau contoh alat lain misalnya laptop, kita manfaatkan sebagai sumber dan media pembelajaran yang akan mempermudah pekerjaan kita. Bukan untuk membuat kita makin malas, apalagi malas menulis.



Keempat; Pegang eratlah janji, berjanjilah hanya tentang hal yang bisa dilakukan dan lakukan segala hal yang anda telah janjikan. Tunjukan kita sebagai pemegang janji yang teguh. Bagi saya kepercayaan adalah amanah. Dan kode etik ‘pendidikan’ adalah pedoman kepercayaan itu untuk menuju sosok ‘pendidikan’ yang luar biasa.



Terakhir, mulai tahun ajaran baru di tahun 2012/2013 akan datang, mari nyalakan ‘lilin’ dalam diri kita. Kita adalah figure dan role model yang mesti tangguh dihadapan siswa dan masyarakat. Semoga sukses selalu!



Bagaimana menurut ‘pendidikan’?



** ) Irwandi, Guru KKPI SMKN2 Batam Propinsi KEPRI-Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar